Jakarta - Setelah sukses besar di kandang sendiri,
Xiaomi sejak awal tahun 2014 memulai ekspansinya ke pasar di luar China.
Asia adalah salah satu target utama yang dibidik, termasuk Indonesia di
dalamnya.
CEO Xiaomi Lei Jun dari beberapa kali ucapannya memang
menegaskan, Asia Tenggara adalah salah satu pasar yang paling potensial
untuk menjual produk-produknya. Saat itu, gambaran mengenai kapan
'Apple dari Timur' ini mulai berekspansi masih belum jelas.
Baru
pada bulan Februari, titik terangnya sudah mulai terlihat. Wilayah yang
pertama disinggahi adalah Asia Tenggara, di mana Singapura yang didaulat
menjadi negara pertama bakal disambanginya.
Memang bukan
Indonesia yang disebut, namun setidaknya, Indonesia kemungkinan besar
akan didatangi dalam waktu dekat semakin jelas.
Baru di bulan
April, teka-teki ini menjadi jelas. Kepastian Xiaomi untuk masuk
Indonesia diungkapkan langsung oleh CEO Xiaomi Lei Jun.
Steve
Jobs 'Made in China' ini mengungkapkan rencananya tersebut pada sebuah
konferensi pers di Beijing, Tiongkok. Dia mengatakan, Xiaomi siap masuk
10 negara berkembang dan besar mulai tahun ini.
Selain Indonesia, 9 negara lainnya adalah India, Brazil, Rusia, Meksiko, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam dan Turki
Bulan terus bergulir. Xiaomi pun semakin menegaskan dirinya untuk masuk
ke pasar Tanah Air. Ini semakin jelas, setelah Erajaya mengaku kepada
detikINET telah melakukan pendekatan dengan Xiaomi.
Menurut
Direktur Marketing & Communication Erajaya Djatmiko Wardoyo, saat
ini Xiaomi masih belum menunjuk official partner di Indonesia.
"Namun
kalau ditanya apakah kita (Erajaya-red) berminat untuk bekerja sama
dengan Xiaomi, tentu Erajaya dalam posisi sangat siap," tegas Kok
Koko
memaparkan, Erajaya bisa dibilang sudah memiliki apa yang dibutuhkan
untuk terjun ke bisnis ponsel di Indonesia dari sisi chanel distribusi.
"Kita
sudah punya chanel retail 500 toko, online kami punya Erafone,
distribusi punya di 94 titik, 20 ribu reseller dan ada juga chanel buat
korporat. Semuanya sudah ada," umbarnya.
Yang ditunggu akhirnya
tiba. Tepatnya 27 Agustus secara resmi Xiaomi mencoba peruntungannya di
pasar lokal yang sebetulnya sudah penuh sesak.
Redmi 1S jadi
amunisi perdana Xiaomi untuk menggebrak Indonesia. Ponsel memang
memiliki spesifikasi yang rata-rata, tak ada kesan wah, hanya saja punya
banderol yang murah meriah, cuma Rp 1,5 juta.
Demi menegaskan
keseriuasannya, Xiaomi turut memboyong para pentolannya ke Indonesia
saat merilis Redmi 1S. Hadir mantan petinggi Google yang kini menjabat
VP Xiaomi Global, Hugo Barra, dan co-founder Xiaomi Lin Bin.
Xiaomi
menilai, penetrasi smartphone di Indonesia masih kecil, baru 23%. Angka
ini berselisih sangat jauh dibanding penetrasi kartu SIM di Indonesia
yang diprediksi mencapai 150% pada tahun 2016 mendatang. Selisih itulah
dinilai Xiaomi sebagai potensi yang masih sangat dapat digarap.